Menu Close

Pemicu & Dampak Buruk Thalassophobia Serta Cara Mengatasinya

Pemicu & Dampak Buruk Thalassophobia Serta Cara Mengatasinya

Memiliki fobia atau ketakutan terhadap sesuatu adalah hal yang umum terjadi pada setiap manusia. Berdasarkan data dari National Institute of Mental Health (NIMH), fobia adalah jenis penyakit mental yang paling umum terjadi di Amerika Serikat. Sekitar 7-9% orang di Amerika Serikat memiliki fobia spesifik. 

Seperti pada hal Thalassophobia atau ketakutan akan perairan yang dalam dan luas. Secara etimologi, istilah thalassophobia berasal dari bahasa Yunani yang mengandung dua kata. Keduanya, yaitu thalassa yang berarti laut dan phobos yang berarti takut. Fobia ini masuk dalam fobia spesifik yang apabila tidak segera diatasi dan dicegah dapat membatasi kehidupan penderitanya. 

Faktor pemicu thalassophobia

Thalassophobia menjadikan penderitanya memiliki ketakutan yang intens terhadap badan air yang tampak luas, gelap, dan dalam. Mereka juga takut akan makhluk laut serta hal-hal yang mungkin mengintai di bawahnya. Berkaitan dengan hal itu, faktor-faktor pemicu Thalassophobia dapat meliputi:

  • laut
  • Kolam renang
  • Danau
  • berperahu
  • Renang
  • Foto air dalam
  • Tidak bisa menyentuh bagian bawah saat berada di air
  • Film-film yang menampilkan tema perairan dalam beserta kehidupannya yang menakutkan

Berdasar faktor-faktor tersebut, setiap orang mengalami Thalassophobia secara berbeda. Beberapa orang mungkin panik saat berenang di air yang dalam, atau saat berada di atas kapal, bahkan tidak lagi bisa menyentuh dasar kolam. Beberapa orang lainnya mungkin mengalami ketakutan hanya dengan memikirkan lautan, atau ketika melihat gambar-gambar air yang dalam.

Dampak buruk thalassophobia

Jika tidak dengan cepat diatasi, Thalassophobia akan berdampak buruk bagi para penderitanya. Dampak tersebut dapat berupa gangguan mental yang parah hingga pada nyawa. Salah satunya adalah resiko tenggelam sebagai respon panik saat berada di perairan yang dalam. 

Hal yang berbahaya itu sendiri bukanlah airnya melainkan respon panik dan kecemasan yang berlebih. Bayangkan saat terakhir kali Anda berhadapan langsung dengan situasi yang berbahaya, tubuh akan secara langsung berada dalam mode respon fight-or-flight. Respon tersebut adalah serangkaian reaksi yang mempersiapkan tubuh Anda untuk bertahan dan menghadapi ancaman atau melarikan diri dari bahaya. Seseorang dengan Thalassophobia akan mengalami reaksi seperti itu di mana respon tersebut mungkin tidak sebanding dengan bahaya yang sebenarnya ia hadapi.

Berikut ini ada beberapa komplikasi sebagai efek dari Thalassophobia yang pada akhirnya dapat berdampak pada berbagai bidang kehidupan seseorang.

Serangan panik

Serangan panik ditandai dengan perasaan takut yang tiba-tiba, disertai dengan gejala fisik yang dapat termasuk rasa sakit dada, perasaan tercekik, mati rasa, perasaan tak nyata, dan takut mati.

Kesepian dan Isolasi Sosial

Lebih lanjut, penderita akan masuk ke dalam kecemasan dan ketakutan  dapat membuat orang menghindari situasi di mana mereka kemungkinan bersentuhan dengan objek ketakutan mereka yang dalam hal ini adalah lautan luas dan makhluk di dalamnya.

Depresi

Penelitian telah menunjukkan bahwa orang dengan fobia spesifik juga terkadang mengalami perubahan suasana hati atau gejala depresi.

Penyalahgunaan zat

Mereka yang bertahan tanpa pengobatan dan konsultasi dengan dokter atau ahli kesehatan lainnya cenderung akan mengambil keputusan sendiri. Salah satu hal instan yang sering salah dilakukan orang untuk mengobati gejala kecemasan adalah dengan penggunaan obat, alkohol dan zat lainnya. Hal ini tentunya bukanlah pengobatan yang baik karena dosis yang digunakan bisa saja tidak sesuai dengan yang diperlukan.

Cara mengobati thalassophobia

Pengobatan Thalassophobia dapat dilakukan dengan terapi. Terdapat dua jenis terapi yang biasa dilakukan untuk pengobatan fobia ini, yaitu:

Terapi perilaku kognitif

Terapi perilaku kognitif (CBT) adalah jenis terapi bicara. Tujuannya adalah untuk membantu seseorang menantang pikiran dan keyakinannya akan objek yang menjadi ketakutannya untuk mengurangi kecemasan yang dapat ditimbulkan.

Misalnya, dalam sesi CBT untuk thalassophobia, terapis dapat membantu seseorang belajar mengidentifikasi pikiran cemas tentang laut dan memahami bagaimana pikiran itu memengaruhi emosi, gejala fisik, dan perilaku mereka.

Seiring waktu, CBT dapat membantu orang mempertanyakan apakah pola pikir atau perilaku mereka membantu, realistis, atau sesuai untuk situasi saat ini. Ini dapat membantu orang tersebut mengubah respons mereka terhadap pemicu fobia, dan mengurangi kecemasan mereka.

Terapi paparan

Terapi paparan melibatkan seseorang yang melakukan kontak dekat dengan hal-hal atau situasi yang membuat mereka takut. Terkadang, kontak ini disimulasikan atau dibayangkan.

Tujuannya mungkin untuk membuktikan bahwa sesuatu tidak berbahaya apalagi lebih berbahaya daripada yang diyakini orang tersebut. Terapi pemaparan juga dapat membantu seseorang merasa lebih percaya diri dengan kemampuannya untuk menghadapi situasi yang ditakutinya.

Selama terapi paparan, terapis membantu seseorang menghadapi ketakutan mereka di lingkungan yang aman dan terkendali. Beberapa cara yang umum dilakukan dalam sesi tersebut, seperti:

  • Paparan in vivo: Melibatkan kontak langsung dengan pemicu fobia.
  • Eksposur imaginal: Membuat seseorang membayangkan objek atau situasi yang mereka takuti secara rinci. Seseorang dengan Thalassophobia mungkin memikirkan atau menggambarkan laut selama sesi ini.
  • Eksposur realitas virtual: Ini melibatkan penggunaan teknologi untuk mensimulasikan pengalaman terlibat dengan objek atau situasi tertentu. Terapis dapat menggunakan teknik ini ketika tidak mungkin untuk mencoba secara paparan in vivo.

Strategi relaksasi untuk mengatasi thalassophobia

Fobia bisa amat mengganggu dan sulit dikendalikan. Jika Anda secara tak terduga menemukan pemicu fobia, gunakan strategi teknik koping berikut untuk membantu Anda mengatasinya:

  1. Latihan pernapasan: Pernapasan yang lambat dan stabil dapat membantu menghentikan hiperventilasi dan memungkinkan untuk kembali ke keadaan yang lebih tenang. Saat kecemasan mulai meningkat, coba hembuskan napas panjang dan lambat. Atau, cobalah pernapasan 4-7-8 .
  2. Perhatian/kesadaran: Teknik ini mendorong Anda untuk tetap tinggal dan tenang di situasi tersebut. Pusatkan semua perhatian pada pernapasan, sensasi fisik, atau lingkungan.
  3. Gangguan: Fokus pada sesuatu yang lain bisa menjadi solusi sementara untuk mengatasi kecemasan. Anda bisa berbicara dengan teman atau anggota keluarga, menonton video, atau mendengarkan musik.
  4. Self-compassion: Jika Anda mengalami kecemasan secara tidak terduga, Anda mungkin merasa malu atau gagal. Namun, ingatlah bahwa tidak selalu kita dapat mencegah emosi negatif datang, dan normal untuk mengalami hari-hari baik maupun buruk sekalipun. Untuk itu, Anda dapat melakukan teknik mengasihi diri sendiri untuk meredakan stres tentang kecemasan yang Anda rasakan.

Hal terpenting untuk diingat ketika mencoba mengatasi Thalassophobia adalah bersikap baik pada diri sendiri. Memiliki fobia adalah hal umum dan banyak orang yang memiliki ketakutan yang sama dengan Anda, dan pernah berada di posisi Anda. 

Namun, jika fobia yang kamu alami sudah mulai mengganggu aktivitasmu jangan segan segan untuk menghubungi dan berkonsultasi dengan dokter, Anda bisa chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. 

Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *